Beranda Kurikulum Penilaian Otentik Pada Kurikulum 2013 | Bab 1

Penilaian Otentik Pada Kurikulum 2013 | Bab 1

476
0

Penilaian otentik merupakan model penilaian yang diterapkan pada kurikulum 2013. Inti dari penilaian ini yaitu mengukur semua kompetensi, baik sikap, keterampilan, dan pengetahuan menurut proses dan hasil. Penilaian otentik merupakan perbaikan dari penilaian berbasis kompetensi yang mengukur kompetensi pengetahuan menurut hasil tes saja. Dengan demikian, penilaian dengan model ini sanggup memperkuat PAP atau Penilaian Acuan Patokan  dan mendorong pemanfaatan portofolio yang dibentuk siswa sebagai instrumen utama penilaian.

Penilaian Otentik versus Penilaian Tradisional 

Sebagai sebuah model yang baru, penilaian otentik tentu saja berbeda dengan penilaian tradisional. Penilaian otentik berciri realistis atau sesuai dengan kenyataan dan memerlukan bukti eksklusif penerapan pengetahuan dan keterampilan. Sebaliknya, penilaian tradisional bercirikan sangat berkonteks sekolah menyerupai mengisi titik-titik, balasan singkat, kuis, menentukan jawaban, dan lain sebagainya. Gambar di bawah menunjukan lebih rinci perbedaan antara keduanya.

 merupakan model penilaian yang diterapkan pada kurikulum  Penilaian Otentik pada Kurikulum 2013 | Bagian 1


Tugas Otentik


Tugas otentik yaitu sesuatu yang tidak sanggup dilepaskan dari konsep penilaian otentik secara keseluruhan. Dalam kiprah otentik, kiprah merupakan tantangan yang ada atau yang menyerupai dalam dunia nyata. Tugas juga tidak hanya mempunyai satu balasan yang benar. Dengan demikian, siswa atau akseptor bimbing sanggup membangun (construct) respons sendiri dan tidak sekedar menentukan balasan yang tersedia. Berikut yaitu contoh-contoh kiprah otentik: 
  • Pemecahan persoalan matematik
  • Melaksanakan penelitian atau percobaan
  • Berargumentasi, berdebat
  • Menulis dan mengedit laporan
  • Berpidato
  • Menulis berita
  • Membuat peta perjalanan
  • dsb
Acuan Kriteria / Patokan

Dalam penilaian otentik, prestasi kemampuan akseptor bimbing tidak dibandingkan dengan akseptor kelompok, tetapi dengan kemampuan yang dimiliki sebelumnya dan patokan yang ditetapkan. Penentuan patokan sanggup dibentuk dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 
  • Kriteria: 0-100%
  • Ideal: 75%
  • Sekolah memutuskan sendiri dengan pertimbangan sebagai berikut: ciri atau karakteristik kompetensi dasar yang hendak dicapai, daya dukung sekolah (guru dan sarana), dan karakteristik 
  • Tuntas apabila skor sama atau di atas kriteria ketuntasan. 

Tulisan ini akan dilanjutkan di Bagian 2, terutama mengenai cara penilaian. 

Sumber Bacaan: 

Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang Kemendikbud


Sumber http://www.informasiguru.com/